<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>Haechiluffy</title>
    <link>https://haechiluffy.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Sat, 04 Apr 2026 01:57:01 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Putus?</title>
      <link>https://haechiluffy.writeas.com/putus?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Setelah mendapatkan pesan dari Nina. Azzalea langsung meninggalkan canda tawanya tadi bersama Vernon, Azora menarik tangan Azza seolah langkahnya berhenti. &#xA;&#xA;&#34;Azza!&#34; Azora merasa daritadi Nina tidak kembali, maka dari itu Azora mencoba mencari tau dari Azzalea, yang bisa di sebut teman dekat Nina.&#xA;&#xA;&#34;Dia lagi datang bulan, dan ternyata lupa nggak bawa softex. Ini aku mau nganterin mbak, untung aku bawa hehe&#34; Jawab Azza mengalihkan ekspresinya menjadi baik-baik saja.&#xA;&#xA;&#34;Oh— yaudah kalau gitu,&#34; Azora melepas kembali genggamannya, membiarkan Azza membantu Nina, padahal itu semua bohong.&#xA;&#xA;Azza kembali melihat Nina sedang menangis sendiri dekat taman sembari menatap layar ponselnya.&#xA;&#xA;&#34;Nin?&#34; Suara lembut Azza kini menghampiri gadis itu yang sadar sehingga memeluk Azza erat.&#xA;&#xA;&#34;Za, Pram putusin gue—&#34; terdengar suara isakan dalam dekapannya.&#xA;&#xA;&#34;Sejak?&#34; Tanya Azzalea dengan suara sedikit lantang.&#xA;&#xA;Sebenarnya Azza sudah berkali-kali meminta Nina mengakhiri hubungan asmara-nya bersama laki-laki penghianat —Pramana. Kurang lebih satu bulan, Azza sudah mengetahui perlakuan aneh pacar Nina, hanya saja dia tidak ingin mengecewakan perasaan sahabatnya, Azza menutupi kelakuan laki-laki itu bersama wanita yang selama ini ia jemput tiap hari sabtu dan minggu. &#xA;&#xA;&#34;Azza! Maafin gue selama ini udah banyak suudzon sama lo, ternyata lo bener, Pram bukan laki-laki baik.&#34; Ujar Nina masih memeluk Azza.&#xA;&#xA;Azza mencoba menenangkan hati sahabatnya, dirinya tidak tega melihat sahabatnya harus menangis.&#xA;&#xA;&#34;Udah ya Nin, lo jangan nangis. Jangan lo tangisin cowok brengsek kayak dia, jangan kotorin air mata lo, Nin.&#34; Ucap Azza mengusap pipi Nina yang terisak.&#xA;&#xA;&#34;Gue benci air mata kotor, jadi jangan lo tangisin orang kayak gitu. Air mata lo itu suci, jangan nangis ya!&#34; Azza memeluk erat Nina kembali, ia mengusap halus punggung Nina agar tetap tenang.&#xA;&#xA;&#34;Lo pulang ya!&#34; Titah Azzalea.&#xA;&#xA;&#34;Gak mau, Za.&#34; Balas Nina menggeleng.&#xA;&#xA;&#34;Nin, udah sore, lo harus pulang ya? Gue suruh Gala antar lo, mau?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Terus, lo gimana?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue nanti bawa mobil lo, sekalian anterin pulang mobilnya. Yang penting lo tenang dulu ya, gue khawatir kalau nanti lo nyetir sendiri dalam keadaan kayak gini malah ada apa-apa.&#34;&#xA;&#xA;Nina sudah tidak sanggup membalas tolakan untuk Azza, ia mengangguk. Azza mengajak Nina kembali pada anak-anak lainnya yang sudah menunggu di parkiran.&#xA;&#xA;&#34;Astaga, kalian kemana aja sih?&#34; Tanya Putri sedang memakai helmnya.&#xA;&#xA;&#34;Kalian kemana aja? Azza, ada apa?&#34; Tanya Azora.&#xA;&#xA;&#34;Loh, nina kok matanya sembab? Lo nangis, nin?&#34; Tanya Abima.&#xA;&#xA;&#34;Maaf ya guys, Nina tadi nggak enak badan sampai nangis soalnya kesakitan habis gue kerokin, ya kan nin?&#34; Ujar Azzalea mengalihkan kejadian tadi.&#xA;&#xA;&#34;Kalian kerokan?&#34; Tanya Danu terkekeh.&#xA;&#xA;Azzalea menyenggol pelan Nina untuk memberi kode. &#34;I-iya kak,&#34; dengan mengangguk.&#xA;&#xA;&#34;Gala, lo anterin nina ya?&#34; Ucap Azza pada Gala.&#xA;&#xA;&#34;Lah? Dia bukannya bawa mobil?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Dia lagi sakit dadakan, daripada dia nyetir sendirian malah takutnya gak fokus di jalan terus ada apa-apa gimana?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Terus lo pulangnya gimana? Ntar gue di tanyain bunda gimana anjir?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue pulang naik mobilnya Nina, gue ada urusan bentar—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Za, mau ngapain?&#34; Seketika Nina bingung.&#xA;&#xA;&#34;Percaya sama gue, semua bakal baik-baik aja. Lo istirahat ya,&#34; bisik Azzalea.&#xA;&#xA;&#34;Kok bisik-bisik?&#34; Tanya Nathan.&#xA;&#xA;&#34;Ke—po!&#34; Balas Azzalea.&#xA;&#xA;Nina memberikan kunci mobil pada Azzalea, Nina khawatir tapi kondisi dia juga ingin istirahat karena daritadi menangis kencang. Hanya Azzalea yang bisa menenangkan sahabatnya.&#xA;&#xA;&#34;Za, jangan pulang malam-malam!&#34; Ucap Dimas dan lainnya.&#xA;&#xA;&#34;Siap!&#34;&#xA;&#34;Acen, nggak mau ngucapin gitu juga?&#34; Tanya Azzalea pada Arsen yang daritadi hanya diam menyimak dan membalas lirikan sinis.&#xA;&#xA;&#34;Hmmm,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm doang?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tiati!&#34; Ucap Arsen dengan ekspresi dinginnya sembari menyalakan mesin motornya.&#xA;&#xA;&#34;OMO OMO OMO, SIAP!&#34;&#xA;&#xA;Semua mulai meninggalkan Azzalea, tertinggal Arsen yang masih diam.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa, cen?&#34; Tanya Azzalea bingung.&#xA;&#xA;Arsen hanya meninggalkan lirikan matanya yang bisa di lihat dari bagian helm. Ada senyuman yang sempat Arsen suguhkan, hanya saja tertutup oleh helmnya. Itu sengaja. Kemudian Arsen meninggalkan Azzalea yang melambaikan tangan. &#34;Hati-hati, Arsen!&#34;&#xA;&#xA;Image&#xA;&#xA;—haechiluffy]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Setelah mendapatkan pesan dari Nina. Azzalea langsung meninggalkan canda tawanya tadi bersama Vernon, Azora menarik tangan Azza seolah langkahnya berhenti.</p>

<p><em>“Azza!”</em> Azora merasa daritadi Nina tidak kembali, maka dari itu Azora mencoba mencari tau dari Azzalea, yang bisa di sebut teman dekat Nina.</p>

<p><em>“Dia lagi datang bulan, dan ternyata lupa nggak bawa softex. Ini aku mau nganterin mbak, untung aku bawa hehe”</em> Jawab Azza mengalihkan ekspresinya menjadi baik-baik saja.</p>

<p><em>“Oh— yaudah kalau gitu,”</em> Azora melepas kembali genggamannya, membiarkan Azza membantu Nina, padahal itu semua bohong.</p>

<p>Azza kembali melihat Nina sedang menangis sendiri dekat taman sembari menatap layar ponselnya.</p>

<p><em>“Nin?”</em> Suara lembut Azza kini menghampiri gadis itu yang sadar sehingga memeluk Azza erat.</p>

<p><em>“Za, Pram putusin gue—”</em> terdengar suara isakan dalam dekapannya.</p>

<p><em>“Sejak?”</em> Tanya Azzalea dengan suara sedikit lantang.</p>

<p>Sebenarnya Azza sudah berkali-kali meminta Nina mengakhiri hubungan asmara-nya bersama laki-laki penghianat —<em>Pramana</em>. Kurang lebih satu bulan, Azza sudah mengetahui perlakuan aneh pacar Nina, hanya saja dia tidak ingin mengecewakan perasaan sahabatnya, Azza menutupi kelakuan laki-laki itu bersama wanita yang selama ini ia jemput tiap hari sabtu dan minggu.</p>

<p><em>“Azza! Maafin gue selama ini udah banyak suudzon sama lo, ternyata lo bener, Pram bukan laki-laki baik.”</em> Ujar Nina masih memeluk Azza.</p>

<p>Azza mencoba menenangkan hati sahabatnya, dirinya tidak tega melihat sahabatnya harus menangis.</p>

<p><em>“Udah ya Nin, lo jangan nangis. Jangan lo tangisin cowok brengsek kayak dia, jangan kotorin air mata lo, Nin.”</em> Ucap Azza mengusap pipi Nina yang terisak.</p>

<p><em>“Gue benci air mata kotor, jadi jangan lo tangisin orang kayak gitu. Air mata lo itu suci, jangan nangis ya!”</em> Azza memeluk erat Nina kembali, ia mengusap halus punggung Nina agar tetap tenang.</p>

<p><em>“Lo pulang ya!”</em> Titah Azzalea.</p>

<p><em>“Gak mau, Za.”</em> Balas Nina menggeleng.</p>

<p><em>“Nin, udah sore, lo harus pulang ya? Gue suruh Gala antar lo, mau?”</em></p>

<p><em>“Terus, lo gimana?”</em></p>

<p><em>“Gue nanti bawa mobil lo, sekalian anterin pulang mobilnya. Yang penting lo tenang dulu ya, gue khawatir kalau nanti lo nyetir sendiri dalam keadaan kayak gini malah ada apa-apa.”</em></p>

<p>Nina sudah tidak sanggup membalas tolakan untuk Azza, ia mengangguk. Azza mengajak Nina kembali pada anak-anak lainnya yang sudah menunggu di parkiran.</p>

<p><em>“Astaga, kalian kemana aja sih?”</em> Tanya Putri sedang memakai helmnya.</p>

<p><em>“Kalian kemana aja? Azza, ada apa?”</em> Tanya Azora.</p>

<p><em>“Loh, nina kok matanya sembab? Lo nangis, nin?”</em> Tanya Abima.</p>

<p><em>“Maaf ya guys, Nina tadi nggak enak badan sampai nangis soalnya kesakitan habis gue kerokin, ya kan nin?”</em> Ujar Azzalea mengalihkan kejadian tadi.</p>

<p><em>“Kalian kerokan?”</em> Tanya Danu terkekeh.</p>

<p>Azzalea menyenggol pelan Nina untuk memberi kode. <em>“I-iya kak,”</em> dengan mengangguk.</p>

<p><em>“Gala, lo anterin nina ya?”</em> Ucap Azza pada Gala.</p>

<p><em>“Lah? Dia bukannya bawa mobil?”</em></p>

<p><em>“Dia lagi sakit dadakan, daripada dia nyetir sendirian malah takutnya gak fokus di jalan terus ada apa-apa gimana?”</em></p>

<p><em>“Terus lo pulangnya gimana? Ntar gue di tanyain bunda gimana anjir?”</em></p>

<p><em>“Gue pulang naik mobilnya Nina, gue ada urusan bentar—”</em></p>

<p><em>“Za, mau ngapain?”</em> Seketika Nina bingung.</p>

<p><em>“Percaya sama gue, semua bakal baik-baik aja. Lo istirahat ya,”</em> bisik Azzalea.</p>

<p><em>“Kok bisik-bisik?”</em> Tanya Nathan.</p>

<p><em>“Ke—po!”</em> Balas Azzalea.</p>

<p>Nina memberikan kunci mobil pada Azzalea, Nina khawatir tapi kondisi dia juga ingin istirahat karena daritadi menangis kencang. Hanya Azzalea yang bisa menenangkan sahabatnya.</p>

<p><em>“Za, jangan pulang malam-malam!”</em> Ucap Dimas dan lainnya.</p>

<p><em>“Siap!”</em>
<em>“Acen, nggak mau ngucapin gitu juga?”</em> Tanya Azzalea pada Arsen yang daritadi hanya diam menyimak dan membalas lirikan sinis.</p>

<p><em>“Hmmm,”</em></p>

<p><em>“Hmm doang?”</em></p>

<p><em>“Tiati!”</em> Ucap Arsen dengan ekspresi dinginnya sembari menyalakan mesin motornya.</p>

<p><em>“OMO OMO OMO, SIAP!”</em></p>

<p>Semua mulai meninggalkan Azzalea, tertinggal Arsen yang masih diam.</p>

<p><em>“Kenapa, cen?”</em> Tanya Azzalea bingung.</p>

<p>Arsen hanya meninggalkan lirikan matanya yang bisa di lihat dari bagian helm. Ada senyuman yang sempat Arsen suguhkan, hanya saja tertutup oleh helmnya. Itu sengaja. Kemudian Arsen meninggalkan Azzalea yang melambaikan tangan. <em>“Hati-hati, Arsen!”</em></p>

<p><img src="https://i.imgur.com/p8gbHKr.jpg" alt="Image"/></p>

<p><strong><em>—haechiluffy</em></strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://haechiluffy.writeas.com/putus</guid>
      <pubDate>Sat, 18 Dec 2021 14:55:00 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Boleh duduk sebelah lo, nggak?</title>
      <link>https://haechiluffy.writeas.com/boleh-duduk-sebelah-lo-nggak?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Image&#xA;&#xA;Siang ini, Azza dan Vernon lainnya tengah berkumpul di suatu cafe langganan. Gala berjalan dan di susul Azza dari belakang memegang tas selempangnya. &#xA;&#xA;&#34;Sorry, nunggu lama ya?&#34; Ucap Gala.&#xA;&#xA;&#34;Hai ! Azza hadir membawakan kebahagiaan untuk kalian— eh, ada acen. Hai, gue boleh duduk sebelah lo nggak?&#34; Tanya Azza girang sembari memutarkan tubuhnya layaknya ballerina.&#xA;&#xA;Azza berdecak. &#34;Hash kelamaan nunggu jawabannya, gue duduk aja. Hehe. Hai, mas Acen?&#34;&#xA;&#xA;Arsen masih pada posisinya, ia tidak sedikit pun merespon gadis itu. Ia hanya menghela napas kasar, kemudian beralih pada ponselnya.&#xA;&#xA;&#34;Sok sibuk banget, emang ada yang chat? Biasanya juga gue yang ngechat lo,&#34; ujar Azza menyindir Arsen yang pura-pura membuka layar ponselnya.&#xA;&#xA;&#34;Berisik.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Emang bener kan? Lagi pula mana ada sih orang yang berani chat acen? Hmmm— gue tau. Sebenernya banyak kok fans lo, banyak yang chat lo, cuma lo nggak pernah respon. Mereka mana punya nyali gede kayak gue? Beraninya say hi tanpa topik,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo bisa diem nggak sih? Berisik banget,&#34; Balas Arsen bersikap dingin.&#xA;&#xA;&#34;nggak bisa—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue berisik juga ntar lama kelamaan lo kangen, ya kan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bohong?&#34;&#xA;&#xA;Arsen tidak membalas, wajah datarnya tetap beralih pada ponselnya.&#xA;&#xA;&#34;Cen, asal lo tau? Gue tuh nggak ada duplikatnya loh, gue jamin suatu saat lo bakal kangen sama orang kayak gue. Ya nggak guys?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Pede amat lo?&#34; Balas Arsen dingin lagi.&#xA;&#xA;&#34;Loh iya dong? Acen, maunya apa sih biar cair? Nggak capek ya jadi cowok kulkas 8 pintu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sok tau,&#34;&#xA;&#xA;Azza meletakkan kepalan tangannya di dagu untuk menyangga kepalanya sambil menatap laki-laki dingin itu.&#xA;&#xA;&#34;Kalau gue bisa bikin lo cair nggak dingin lagi, lo mau kasih gue apa?&#34; Tanya Azza tiba-tiba.&#xA;&#xA;&#34;Tisu galon,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Acen tuh aneh ya—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nama gue A-R-S-E-N.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, Azza tau kok. Tapi gue emang suka cara yang berbeda, jadi nama acen dari azzalea nggak boleh ada yang ambil.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Waduh ngeri...&#34; ucap Danu.&#xA;&#xA;&#34;Za, gue jamin lo bakal pasrah sama nih bocah. Dia susah, Za.&#34; Imbuh Nathan.&#xA;&#xA;&#34;Oh ngeremehin nih ceritanya?&#34; Ujar Azza melirik sinis Nathan dan Danu.&#xA;&#xA;&#34;Eh— enggak. Maksud gue,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kali ini gue percaya sama ucup,&#34; ujar azza menatap seluruhnya.&#xA;&#xA;&#34;Ucup? Ucup siapa lagi sih za?&#34; Tanya Nina.&#xA;&#xA;&#34;Nin, lo lupa sama film belok kanan barcelona? Lo tau kan gimana ucup mengejar cinta farah dari jaman SMA sampai mereka menyatakan cinta di negara Spanyol yang tepatnya di La Rambla?&#34;&#xA;&#xA;Seketika Nina teringat film terakhir yang mereka tonton beberapa bulan lalu. &#xA;&#xA;&#34;I-iya gue ingat!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue emang sebodoh acha mengejar cinta iqbal dalam Mariposa, tapi gue yakin mau sejauh apapun kita layaknya Yusuf dan Farah. Suatu saat nanti akan ada saatnya kisah itu menjadi Habibie &amp; Ainun.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Halu,&#34; Ucap Arsen datar.&#xA;&#xA;&#34;Kata ucup— kalo cinta itu harus di perjuangin, Cen.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kebanyakan nonton film, halu lo kelewatan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Biarin, siapa tau kisah kita juga hehehe—&#34;&#xA;&#xA;—haechiluffy&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><img src="https://i.imgur.com/rBvmucw.jpg" alt="Image"/></p>

<p>Siang ini, Azza dan Vernon lainnya tengah berkumpul di suatu cafe langganan. Gala berjalan dan di susul Azza dari belakang memegang tas selempangnya.</p>

<p><em>“Sorry, nunggu lama ya?”</em> Ucap Gala.</p>

<p><em>“Hai ! Azza hadir membawakan kebahagiaan untuk kalian— eh, ada acen. Hai, gue boleh duduk sebelah lo nggak?”</em> Tanya Azza girang sembari memutarkan tubuhnya layaknya ballerina.</p>

<p>Azza berdecak. <em>“Hash kelamaan nunggu jawabannya, gue duduk aja. Hehe. Hai, mas Acen?”</em></p>

<p>Arsen masih pada posisinya, ia tidak sedikit pun merespon gadis itu. Ia hanya menghela napas kasar, kemudian beralih pada ponselnya.</p>

<p><em>“Sok sibuk banget, emang ada yang chat? Biasanya juga gue yang ngechat lo,”</em> ujar Azza menyindir Arsen yang pura-pura membuka layar ponselnya.</p>

<p><em>“Berisik.”</em></p>

<p><em>“Emang bener kan? Lagi pula mana ada sih orang yang berani chat acen? Hmmm— gue tau. Sebenernya banyak kok fans lo, banyak yang chat lo, cuma lo nggak pernah respon. Mereka mana punya nyali gede kayak gue? Beraninya say hi tanpa topik,”</em></p>

<p><em>“Lo bisa diem nggak sih? Berisik banget,”</em> Balas Arsen bersikap dingin.</p>

<p><em>“nggak bisa—”</em></p>

<p><em>“Gue berisik juga ntar lama kelamaan lo kangen, ya kan?”</em></p>

<p><em>“Nggak.”</em></p>

<p><em>“Bohong?”</em></p>

<p>Arsen tidak membalas, wajah datarnya tetap beralih pada ponselnya.</p>

<p><em>“Cen, asal lo tau? Gue tuh nggak ada duplikatnya loh, gue jamin suatu saat lo bakal kangen sama orang kayak gue. Ya nggak guys?”</em></p>

<p><em>“Pede amat lo?”</em> Balas Arsen dingin lagi.</p>

<p><em>“Loh iya dong? Acen, maunya apa sih biar cair? Nggak capek ya jadi cowok kulkas 8 pintu?”</em></p>

<p><em>“Sok tau,”</em></p>

<p>Azza meletakkan kepalan tangannya di dagu untuk menyangga kepalanya sambil menatap laki-laki dingin itu.</p>

<p><em>“Kalau gue bisa bikin lo cair nggak dingin lagi, lo mau kasih gue apa?”</em> Tanya Azza tiba-tiba.</p>

<p><em>“Tisu galon,”</em></p>

<p><em>“Acen tuh aneh ya—”</em></p>

<p><em>“Nama gue A-R-S-E-N.”</em></p>

<p><em>“Iya, Azza tau kok. Tapi gue emang suka cara yang berbeda, jadi nama acen dari azzalea nggak boleh ada yang ambil.”</em></p>

<p><em>“Waduh ngeri...”</em> ucap Danu.</p>

<p><em>“Za, gue jamin lo bakal pasrah sama nih bocah. Dia susah, Za.”</em> Imbuh Nathan.</p>

<p><em>“Oh ngeremehin nih ceritanya?”</em> Ujar Azza melirik sinis Nathan dan Danu.</p>

<p><em>“Eh— enggak. Maksud gue,”</em></p>

<p><em>“Kali ini gue percaya sama ucup,”</em> ujar azza menatap seluruhnya.</p>

<p><em>“Ucup? Ucup siapa lagi sih za?”</em> Tanya Nina.</p>

<p><em>“Nin, lo lupa sama film belok kanan barcelona? Lo tau kan gimana ucup mengejar cinta farah dari jaman SMA sampai mereka menyatakan cinta di negara Spanyol yang tepatnya di La Rambla?”</em></p>

<p>Seketika Nina teringat film terakhir yang mereka tonton beberapa bulan lalu.</p>

<p><em>“I-iya gue ingat!”</em></p>

<p><em>“Gue emang sebodoh acha mengejar cinta iqbal dalam Mariposa, tapi gue yakin mau sejauh apapun kita layaknya Yusuf dan Farah. Suatu saat nanti akan ada saatnya kisah itu menjadi Habibie &amp; Ainun.”</em></p>

<p><em>“Halu,”</em> Ucap Arsen datar.</p>

<p><em>“Kata ucup— kalo cinta itu harus di perjuangin, Cen.”</em></p>

<p><em>“Kebanyakan nonton film, halu lo kelewatan.”</em></p>

<p><em>“Biarin, siapa tau kisah kita juga hehehe—”</em></p>

<p><strong><em>—haechiluffy</em></strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://haechiluffy.writeas.com/boleh-duduk-sebelah-lo-nggak</guid>
      <pubDate>Thu, 16 Dec 2021 15:09:21 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Melepas Rindu.</title>
      <link>https://haechiluffy.writeas.com/melepas-rindu?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Image&#xA;&#xA;Mentari pagi kembali menyinari bumi. Hari ini hari minggu, seorang gadis keluar dari pintu rumah mewah dengan pakaian cukup sederhana dan rambut ikalnya. Gala, sudah menunggu di atas sepeda motornya. Laki-laki itu tidak pernah merasa resah ketika bersama Azzalea. baginya, Azza bukan wanita yang heboh, semua yang di miliki Azzalea selalu di kagumi Gala. Sayang sekali, Azza adalah sepupunya. Jika bukan, gadis itu menjadi pacarnya.&#xA;&#xA;&#34;Lama amat sih?&#34; Protes Gala.&#xA;&#xA;&#34;Gue nyariin lo daritadi,&#34; balas Azza tidak terima.&#xA;&#xA;&#34;Yaudah cepetan naik!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Helmnya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tuh,&#34; Gala menunjuk benda berwarna hitam tergantung di ranting pohon.&#xA;&#xA;&#34;GALA, HELM GUE LO APAIN ?!&#34; Teriak Azza merengek.&#xA;&#xA;&#34;Hahahahaha, salah sendiri lama...&#34;&#xA;&#xA;Azza hanya menghembus napas kasar, masih pagi sudah di beri kesal oleh Gala.&#xA;&#xA;Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh lima menit, mereka sampai di depan gapura TPU. Terlihat dari kejauhan tempat istirahat mami dan abang-nya sangat rindang, Azza sudah menyiapkan dua bungkus plastik berisikan taburan bunga. &#xA;&#xA;&#34;Permisi, pak...&#34; ucap Gala dan Azza pada penjaga TPU.&#xA;&#xA;&#34;Ini non Azza sama mas Gala kan?&#34; Tanya laki-laki tua membawa capil dan cangkul di kedua tangannya.&#xA;&#xA;Azza mengangguk sopan. &#34;Iya pak, saya anaknya Almarhum bu sofia dan adiknya bang Rangga. Ini Gala, sepupu saya dan bang Rangga.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Masya Allah... cantik dan ganteng. Iya, saya tadi dapat pesan dari ibu Rita katanya kalian akan kesini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bu Rita itu bunda kandung saya, pak. Sekarang Azza tinggal sama kami, dan bunda ayah udah menjadi orang tua bagi Azza.&#34;&#xA;&#xA;Laki-laki tua itu mengangguk paham. &#xA;&#xA;&#34;Nama bapak, Lukman. Saya yang menjaga pemakaman ini, saya sudah kenal baik dengan keluarga kalian.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Salam kenal pak lukman,&#34; ujar Gala.&#xA;&#xA;&#34;Mari saya antar?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Terima kasih pak.&#34;&#xA;&#xA;——————————————————&#xA;&#xA;&#34;Assalamu&#39;alaikum mami dan bang Rangga. Azza datang nih, anak bontotnya kangen sama kalian. Azza kesini di temenin Gala lagi, azza juga bingung mau ajak siapa lagi.&#34; Ujar Azza mengusap papan nisan mami-nya.&#xA;&#xA;Gala berada di sebelah Azza yang sedang melepas rindu. Azza tidak kuat, air matanya kini menetes di atas liang lahat. &#xA;&#xA;&#34;Mami, Azza kangen. Azza kangen sama kalian, pengen ketemu. Hiks. Oh iya, Azza habis banggain bunda sama ayah loh. Azza dapat ranking 1 nilai tertinggi dan dapat beasiswa. Kalian bangga nggak sama aku?&#34;&#xA;&#xA;Gala hanya terdiam. Mendengar isakan Azza, Gala mencoba menenangkan sepupu-nya melalu mengusap halus punggung dan kepala Azza.&#xA;&#xA;&#34;Maafin Azza ya? Azza nakal banget jadi anak gadis mami, Azza suka mukulin orang, tapi Azza beneran ngelakuin itu demi kebaikan kok, Mi. Kalian lagi apa disana? Kangen aku nggak? Tungguin Azza ya, nanti kita ketemu.&#34; Ujar Azza membuat Gala terkesan aneh.&#xA;&#xA;&#34;Za, ngomong apasih lo? Gak lucu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gal, semua manusia itu akan kembali pada tempat pemula. Kita di dunia cuma sementara, kita gak ada yang tau kapan Tuhan ambil ajal kita, kita cuma bisa nunggu. Makanya kenapa gue bilang gitu, sekalian gue lepas rindu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi jangan ngomong gitu juga, Za. Gue takut kalo lo kenapa-kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue nggak akan tinggalin lo, Gala.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Janji?&#34;&#xA;&#xA;&#34;... Kun fayakun, Gala.&#34;&#xA;&#xA;Setelah tiga puluh menit mereka berdoa serta melepas rindu. Gala melirik kearah pergelangan tangannya, terlihat pukul 11.30 WIB. &#xA;&#xA;&#34;Za, udah setengah dua belas. Kita jadi join ke Vernon nggak?&#34; Tanya Gala.&#xA;&#xA;&#34;Boleh, pumpung masih ada waktu. Kita ke masjid dulu ya, sholat dhuhur terus nyusul mereka?&#34;&#xA;&#xA;Gala mengangguk. &#xA;&#xA;&#34;Mami, abang... kita izin pamit dulu ya? Lain waktu, kita kesini lagi. Bahagia ya kalian disana,&#34; qucap Azza mengusap papan nisan yang bertuliskan Sofia dan Rangga untuk berpamitan.&#xA;&#xA;&#34;Assalamu&#39;alaikum...&#34; ujar mereka berdua, kemudian melangkah pergi meninggalkan tempat.&#xA;&#xA;&#34;Pak lukman, kami pamit dulu. Minta tolong jaga baik-baik keluarga saya ya?&#34; Ujar Azzalea.&#xA;&#xA;&#34;Siap, Non.&#34;&#xA;&#xA;‐haechiluffy]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><img src="https://i.imgur.com/PVyO5Wc.jpg" alt="Image"/></p>

<p>Mentari pagi kembali menyinari bumi. Hari ini hari minggu, seorang gadis keluar dari pintu rumah mewah dengan pakaian cukup sederhana dan rambut ikalnya. Gala, sudah menunggu di atas sepeda motornya. Laki-laki itu tidak pernah merasa resah ketika bersama Azzalea. baginya, Azza bukan wanita yang heboh, semua yang di miliki Azzalea selalu di kagumi Gala. Sayang sekali, Azza adalah sepupunya. Jika bukan, gadis itu menjadi pacarnya.</p>

<p><em>“Lama amat sih?”</em> Protes Gala.</p>

<p><em>“Gue nyariin lo daritadi,”</em> balas Azza tidak terima.</p>

<p><em>“Yaudah cepetan naik!”</em></p>

<p><em>“Helmnya?”</em></p>

<p><em>“Tuh,”</em> Gala menunjuk benda berwarna hitam tergantung di ranting pohon.</p>

<p><em>“GALA, HELM GUE LO APAIN ?!”</em> Teriak Azza merengek.</p>

<p><em>“Hahahahaha, salah sendiri lama...”</em></p>

<p>Azza hanya menghembus napas kasar, masih pagi sudah di beri kesal oleh Gala.</p>

<p>Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh lima menit, mereka sampai di depan gapura TPU. Terlihat dari kejauhan tempat istirahat mami dan abang-nya sangat rindang, Azza sudah menyiapkan dua bungkus plastik berisikan taburan bunga.</p>

<p><em>“Permisi, pak...”</em> ucap Gala dan Azza pada penjaga TPU.</p>

<p><em>“Ini non Azza sama mas Gala kan?”</em> Tanya laki-laki tua membawa capil dan cangkul di kedua tangannya.</p>

<p>Azza mengangguk sopan. <em>“Iya pak, saya anaknya Almarhum bu sofia dan adiknya bang Rangga. Ini Gala, sepupu saya dan bang Rangga.”</em></p>

<p><em>“Masya Allah... cantik dan ganteng. Iya, saya tadi dapat pesan dari ibu Rita katanya kalian akan kesini.”</em></p>

<p><em>“Bu Rita itu bunda kandung saya, pak. Sekarang Azza tinggal sama kami, dan bunda ayah udah menjadi orang tua bagi Azza.”</em></p>

<p>Laki-laki tua itu mengangguk paham.</p>

<p><em>“Nama bapak, Lukman. Saya yang menjaga pemakaman ini, saya sudah kenal baik dengan keluarga kalian.”</em></p>

<p><em>“Salam kenal pak lukman,”</em> ujar Gala.</p>

<p><em>“Mari saya antar?”</em></p>

<p><em>“Terima kasih pak.”</em></p>

<p>——————————————————</p>

<p><em>“Assalamu&#39;alaikum mami dan bang Rangga. Azza datang nih, anak bontotnya kangen sama kalian. Azza kesini di temenin Gala lagi, azza juga bingung mau ajak siapa lagi.”</em> Ujar Azza mengusap papan nisan mami-nya.</p>

<p>Gala berada di sebelah Azza yang sedang melepas rindu. Azza tidak kuat, air matanya kini menetes di atas liang lahat.</p>

<p><em>“Mami, Azza kangen. Azza kangen sama kalian, pengen ketemu. Hiks. Oh iya, Azza habis banggain bunda sama ayah loh. Azza dapat ranking 1 nilai tertinggi dan dapat beasiswa. Kalian bangga nggak sama aku?”</em></p>

<p>Gala hanya terdiam. Mendengar isakan Azza, Gala mencoba menenangkan sepupu-nya melalu mengusap halus punggung dan kepala Azza.</p>

<p><em>“Maafin Azza ya? Azza nakal banget jadi anak gadis mami, Azza suka mukulin orang, tapi Azza beneran ngelakuin itu demi kebaikan kok, Mi. Kalian lagi apa disana? Kangen aku nggak? Tungguin Azza ya, nanti kita ketemu.”</em> Ujar Azza membuat Gala terkesan aneh.</p>

<p><em>“Za, ngomong apasih lo? Gak lucu.”</em></p>

<p><em>“Gal, semua manusia itu akan kembali pada tempat pemula. Kita di dunia cuma sementara, kita gak ada yang tau kapan Tuhan ambil ajal kita, kita cuma bisa nunggu. Makanya kenapa gue bilang gitu, sekalian gue lepas rindu.”</em></p>

<p><em>“Tapi jangan ngomong gitu juga, Za. Gue takut kalo lo kenapa-kenapa?”</em></p>

<p><em>“Gue nggak akan tinggalin lo, Gala.”</em></p>

<p><em>“Janji?”</em></p>

<p><em>”... Kun fayakun, Gala.”</em></p>

<p>Setelah tiga puluh menit mereka berdoa serta melepas rindu. Gala melirik kearah pergelangan tangannya, terlihat pukul 11.30 WIB.</p>

<p><em>“Za, udah setengah dua belas. Kita jadi join ke Vernon nggak?”</em> Tanya Gala.</p>

<p><em>“Boleh, pumpung masih ada waktu. Kita ke masjid dulu ya, sholat dhuhur terus nyusul mereka?”</em></p>

<p>Gala mengangguk.</p>

<p><em>“Mami, abang... kita izin pamit dulu ya? Lain waktu, kita kesini lagi. Bahagia ya kalian disana,”</em> qucap Azza mengusap papan nisan yang bertuliskan Sofia dan Rangga untuk berpamitan.</p>

<p><em>“Assalamu&#39;alaikum...”</em> ujar mereka berdua, kemudian melangkah pergi meninggalkan tempat.</p>

<p><em>“Pak lukman, kami pamit dulu. Minta tolong jaga baik-baik keluarga saya ya?”</em> Ujar Azzalea.</p>

<p><em>“Siap, Non.”</em></p>

<p><strong><em>‐haechiluffy</em></strong></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://haechiluffy.writeas.com/melepas-rindu</guid>
      <pubDate>Sun, 12 Dec 2021 17:02:11 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Pengumuman</title>
      <link>https://haechiluffy.writeas.com/pengumuman?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Image&#xA;&#xA;&#34;Azza, gue deg-degan,&#34; ujar Gala komat-komit.&#xA;&#xA;Azza melirik tajam Gala. &#34;Duh apasih la, sakit anjir lo cubit-cubit! Noh cubit nina, agam, atau abim kek jangan gue.&#34; Balas Azzalea kesal.&#xA;&#xA;Sabtu ini adalah hari penentuan bagi murid SMA Neo Ciputra. Kini semua murid sedang berkumpul menatap deretan kertas putih yang tertempel di mading. Azzalea dan teman-temannya tak sempat mendapat hasil itu, tapi seluruh murid seketika menoleh pada Azzalea yang begitu santai sembari mengunyah permen karet yang ada di mulutnya. &#xA;&#xA;Tidak ada sedikit pun rasa penasaran bagi Azzalea. Sebenarnya, ia sangat khawatir jika nilainya jatuh. Bahkan, saat seluruh murid menatapnya, ia menganggap jika orang-orang akan mengucilkan Azzalea sebab nilainya jelek. Ia akan di sebut murid terbodoh di SMA NC.&#xA;&#xA;Di tengah lapangan, semua murid murid berkumpul sesuai tempat duduk yang tertata. Lima menit lagi kepala sekolah akan berdiri menghadap podium untuk membacakan pengumuman nilai tertinggi hingga mendapatkan beasiswa sekaligus menjadi murid axcellent.&#xA;&#xA;Azzalea menghela nafas kasar. &#34;Azzalea, kakak yakin kamu bisa...&#34; bisik seseorang yang tak tahu keberadaannya. Azza tersenyum, ia yakin jika mami dan Rangga ada di sisinya —Abang Azzalea.&#xA;&#xA;&#34;Aduh, gimana kalo nilai gue jelek, pasti motor gue bakal di sita bapak gue!&#34; Celoteh Agam.&#xA;&#xA;&#34;Ck, berisik gam. Sabar napa, ntar juga di umumin, gak usah rewel deh lo!&#34; Jawab Azza kesal.&#xA;&#xA;&#34;Selamat pagi menjelang siang, Anak-anak. Terima kasih atas kehadirannya, hampir seluruh murid SMA Neo Ciputra dari kelas 1 hingga 3 turut berkumpul disini. Baiklah saya tau jika kalian tidak sabar untuk mendapatkan hasil ini. Maka tanpa berlama-lama lagi, bapak akan segera membacakan pengumuman bagi siswa yang mendapatkan nilai tertinggi dari ranking 4 hingga 1, kemudian murid yang mendapatkan beasiswa sekaligus menjadi siswa akselerasi di Tahun ini.&#34; Ujar bapak kepala sekolah dengan selembar kertas putih di tangannya.&#xA;&#xA;&#34;Keseluruhan siswa untuk nilai tertinggi di mulai dari rangking 4, dilihat dari nilai ujian tertinggi jatuh kepada Ralita Larasati dari siswa kelas 10 IPA 3 dengan nilai 91,75. Beri tepuk tangan!&#34; Ujar bapak kepala sekolah, tepuk tangan terdengar memenuhi lapangan. Azza dapat melihat siswa berambut coklat sebahu berjalan maju kedepan.&#xA;&#xA;&#34;Baik! Selanjutnya untuk ranking 3, dilihat dari nilai ujian tertinggi di susul oleh Arsenio Mahesa dari siswa kelas 11 IPA 2 dengan nilai 95,56. Beri tepuk tangan!&#34;&#xA;&#xA;Dimas sontak berteriak serta menepuk tengan tepat sebelah telinga Arsen yang berdiri sebelahan. &#34;WEHHHHH ADEK GUEEE!!!&#34; Suara gemuruh terdengar dari barisan Vernon, menyambut Arsen yang berjalan maju kedepan.&#xA;&#xA;&#34;ARSEN DIEM-DIEM LIMITED COK&#34;&#xA;&#xA;&#34;GILAKK ARSEN!&#34;&#xA;&#xA;&#34;ARSEN SI ANAK VERNON ADEKNYA KAK DIMAS?&#34;&#xA;&#xA;&#34;AAAA BEBEB ARSEN, SELAMAT!!!&#34;&#xA;&#xA;Pekikan teman-teman yang berteriak di belakang Azza membuat gadis itu menoleh dengan tatapan tajam tanpa suara. Tak lama mereka merunduk saat menyadari Azzalea menatap mereka, Dimas dan anak vernon lainnya hanya terkekeh di deretan siswa kelas 10 lainnya dengan reaksi Azzalea pada adik kelas.&#xA;&#xA;&#34;Makanya jangan teriak-teriak!&#34; Imbuh Danu.&#xA;&#xA;&#34;Oke! Selanjutnya untuk ranking 2, dilihat dari nilai ujian tertinggi jatuh kepada Fathur Ginasyahputra dari siswa kelas 11 IPA 5 dengan nilai 96,60. Beri tepuk tangan!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue yakin, gue nggak bakal dapat. Sisa 1 njir, yaudah lah&#34; ujar Gala.&#xA;&#xA;&#34;Kalau gue sih, yang penting naik kelas,&#34; balas Azza santai.&#xA;&#xA;&#34;Sekarang, untuk ranking 1, nilai tertinggi yang di ambil dari hasil keseluruhan semester ini di raih oleh Azzalea Zalist dari siswa kelas 11 IPS 2 dengan nilai 98. Selamat untuk kalian!&#34;&#xA;&#xA;Suara gemuruh serta tepukan tangan terdengar dari barisan kelas Azzalea.&#xA;&#xA;&#34;AZZA, LO DI SEBUT!&#34; Ucap Gala memeluk Azzalea.&#xA;&#xA;Gadis itu sempat kaget dan tak menyangka jika ia adalah peraih tertinggi di sekolahnya. Bisikan itu, azza masih teringat akan bisikan yang menyuarai telinganya. Ia menangis bahagia dalam pelukan Gala. &#34;Gala, g-gue...?&#34; Gala mengangguk, &#34;iya za, lo udah banggain mami sama bang Rangga!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Selamat! Gue bangga sama lo, Za. Bunda sama ayah pasti bangga!&#34; Bisik Gala turut mengecup puncak kepala Azzalea di hadapan banyak orang. &#34;Kedepan gih!&#34;&#xA;&#xA;Azzalea berjalan menuju pusat suara, dan mendapati piala. &#34;Selamat ya nak!&#34; Ucap kepala sekolah. Ia masih tak menyangka, benar-benar di luar ekspetasinya.&#xA;&#xA;Azza mengangguk senyum. &#34;Terima kasih pak!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Selamat,&#34; ucap laki-laki yang berdiri sebelahnya— Arsen.&#xA;&#xA;Azza menoleh. Tak menyangka lagi seorang Arsen, laki-laki yang ia sebut kulkas 8 door mengajaknya bicara terlebih dahulu. Ucapan selamat yang kedua ia dapat