Boleh duduk sebelah lo, nggak?

Siang ini, Azza dan Vernon lainnya tengah berkumpul di suatu cafe langganan. Gala berjalan dan di susul Azza dari belakang memegang tas selempangnya.
“Sorry, nunggu lama ya?” Ucap Gala.
“Hai ! Azza hadir membawakan kebahagiaan untuk kalian— eh, ada acen. Hai, gue boleh duduk sebelah lo nggak?” Tanya Azza girang sembari memutarkan tubuhnya layaknya ballerina.
Azza berdecak. “Hash kelamaan nunggu jawabannya, gue duduk aja. Hehe. Hai, mas Acen?”
Arsen masih pada posisinya, ia tidak sedikit pun merespon gadis itu. Ia hanya menghela napas kasar, kemudian beralih pada ponselnya.
“Sok sibuk banget, emang ada yang chat? Biasanya juga gue yang ngechat lo,” ujar Azza menyindir Arsen yang pura-pura membuka layar ponselnya.
“Berisik.”
“Emang bener kan? Lagi pula mana ada sih orang yang berani chat acen? Hmmm— gue tau. Sebenernya banyak kok fans lo, banyak yang chat lo, cuma lo nggak pernah respon. Mereka mana punya nyali gede kayak gue? Beraninya say hi tanpa topik,”
“Lo bisa diem nggak sih? Berisik banget,” Balas Arsen bersikap dingin.
“nggak bisa—”
“Gue berisik juga ntar lama kelamaan lo kangen, ya kan?”
“Nggak.”
“Bohong?”
Arsen tidak membalas, wajah datarnya tetap beralih pada ponselnya.
“Cen, asal lo tau? Gue tuh nggak ada duplikatnya loh, gue jamin suatu saat lo bakal kangen sama orang kayak gue. Ya nggak guys?”
“Pede amat lo?” Balas Arsen dingin lagi.
“Loh iya dong? Acen, maunya apa sih biar cair? Nggak capek ya jadi cowok kulkas 8 pintu?”
“Sok tau,”
Azza meletakkan kepalan tangannya di dagu untuk menyangga kepalanya sambil menatap laki-laki dingin itu.
“Kalau gue bisa bikin lo cair nggak dingin lagi, lo mau kasih gue apa?” Tanya Azza tiba-tiba.
“Tisu galon,”
“Acen tuh aneh ya—”
“Nama gue A-R-S-E-N.”
“Iya, Azza tau kok. Tapi gue emang suka cara yang berbeda, jadi nama acen dari azzalea nggak boleh ada yang ambil.”
“Waduh ngeri...” ucap Danu.
“Za, gue jamin lo bakal pasrah sama nih bocah. Dia susah, Za.” Imbuh Nathan.
“Oh ngeremehin nih ceritanya?” Ujar Azza melirik sinis Nathan dan Danu.
“Eh— enggak. Maksud gue,”
“Kali ini gue percaya sama ucup,” ujar azza menatap seluruhnya.
“Ucup? Ucup siapa lagi sih za?” Tanya Nina.
“Nin, lo lupa sama film belok kanan barcelona? Lo tau kan gimana ucup mengejar cinta farah dari jaman SMA sampai mereka menyatakan cinta di negara Spanyol yang tepatnya di La Rambla?”
Seketika Nina teringat film terakhir yang mereka tonton beberapa bulan lalu.
“I-iya gue ingat!”
“Gue emang sebodoh acha mengejar cinta iqbal dalam Mariposa, tapi gue yakin mau sejauh apapun kita layaknya Yusuf dan Farah. Suatu saat nanti akan ada saatnya kisah itu menjadi Habibie & Ainun.”
“Halu,” Ucap Arsen datar.
“Kata ucup— kalo cinta itu harus di perjuangin, Cen.”
“Kebanyakan nonton film, halu lo kelewatan.”
“Biarin, siapa tau kisah kita juga hehehe—”
—haechiluffy