Putus?
Setelah mendapatkan pesan dari Nina. Azzalea langsung meninggalkan canda tawanya tadi bersama Vernon, Azora menarik tangan Azza seolah langkahnya berhenti.
“Azza!” Azora merasa daritadi Nina tidak kembali, maka dari itu Azora mencoba mencari tau dari Azzalea, yang bisa di sebut teman dekat Nina.
“Dia lagi datang bulan, dan ternyata lupa nggak bawa softex. Ini aku mau nganterin mbak, untung aku bawa hehe” Jawab Azza mengalihkan ekspresinya menjadi baik-baik saja.
“Oh— yaudah kalau gitu,” Azora melepas kembali genggamannya, membiarkan Azza membantu Nina, padahal itu semua bohong.
Azza kembali melihat Nina sedang menangis sendiri dekat taman sembari menatap layar ponselnya.
“Nin?” Suara lembut Azza kini menghampiri gadis itu yang sadar sehingga memeluk Azza erat.
“Za, Pram putusin gue—” terdengar suara isakan dalam dekapannya.
“Sejak?” Tanya Azzalea dengan suara sedikit lantang.
Sebenarnya Azza sudah berkali-kali meminta Nina mengakhiri hubungan asmara-nya bersama laki-laki penghianat —Pramana. Kurang lebih satu bulan, Azza sudah mengetahui perlakuan aneh pacar Nina, hanya saja dia tidak ingin mengecewakan perasaan sahabatnya, Azza menutupi kelakuan laki-laki itu bersama wanita yang selama ini ia jemput tiap hari sabtu dan minggu.
“Azza! Maafin gue selama ini udah banyak suudzon sama lo, ternyata lo bener, Pram bukan laki-laki baik.” Ujar Nina masih memeluk Azza.
Azza mencoba menenangkan hati sahabatnya, dirinya tidak tega melihat sahabatnya harus menangis.
“Udah ya Nin, lo jangan nangis. Jangan lo tangisin cowok brengsek kayak dia, jangan kotorin air mata lo, Nin.” Ucap Azza mengusap pipi Nina yang terisak.
“Gue benci air mata kotor, jadi jangan lo tangisin orang kayak gitu. Air mata lo itu suci, jangan nangis ya!” Azza memeluk erat Nina kembali, ia mengusap halus punggung Nina agar tetap tenang.
“Lo pulang ya!” Titah Azzalea.
“Gak mau, Za.” Balas Nina menggeleng.
“Nin, udah sore, lo harus pulang ya? Gue suruh Gala antar lo, mau?”
“Terus, lo gimana?”
“Gue nanti bawa mobil lo, sekalian anterin pulang mobilnya. Yang penting lo tenang dulu ya, gue khawatir kalau nanti lo nyetir sendiri dalam keadaan kayak gini malah ada apa-apa.”
Nina sudah tidak sanggup membalas tolakan untuk Azza, ia mengangguk. Azza mengajak Nina kembali pada anak-anak lainnya yang sudah menunggu di parkiran.
“Astaga, kalian kemana aja sih?” Tanya Putri sedang memakai helmnya.
“Kalian kemana aja? Azza, ada apa?” Tanya Azora.
“Loh, nina kok matanya sembab? Lo nangis, nin?” Tanya Abima.
“Maaf ya guys, Nina tadi nggak enak badan sampai nangis soalnya kesakitan habis gue kerokin, ya kan nin?” Ujar Azzalea mengalihkan kejadian tadi.
“Kalian kerokan?” Tanya Danu terkekeh.
Azzalea menyenggol pelan Nina untuk memberi kode. “I-iya kak,” dengan mengangguk.
“Gala, lo anterin nina ya?” Ucap Azza pada Gala.
“Lah? Dia bukannya bawa mobil?”
“Dia lagi sakit dadakan, daripada dia nyetir sendirian malah takutnya gak fokus di jalan terus ada apa-apa gimana?”
“Terus lo pulangnya gimana? Ntar gue di tanyain bunda gimana anjir?”
“Gue pulang naik mobilnya Nina, gue ada urusan bentar—”
“Za, mau ngapain?” Seketika Nina bingung.
“Percaya sama gue, semua bakal baik-baik aja. Lo istirahat ya,” bisik Azzalea.
“Kok bisik-bisik?” Tanya Nathan.
“Ke—po!” Balas Azzalea.
Nina memberikan kunci mobil pada Azzalea, Nina khawatir tapi kondisi dia juga ingin istirahat karena daritadi menangis kencang. Hanya Azzalea yang bisa menenangkan sahabatnya.
“Za, jangan pulang malam-malam!” Ucap Dimas dan lainnya.
“Siap!” “Acen, nggak mau ngucapin gitu juga?” Tanya Azzalea pada Arsen yang daritadi hanya diam menyimak dan membalas lirikan sinis.
“Hmmm,”
“Hmm doang?”
“Tiati!” Ucap Arsen dengan ekspresi dinginnya sembari menyalakan mesin motornya.
“OMO OMO OMO, SIAP!”
Semua mulai meninggalkan Azzalea, tertinggal Arsen yang masih diam.
“Kenapa, cen?” Tanya Azzalea bingung.
Arsen hanya meninggalkan lirikan matanya yang bisa di lihat dari bagian helm. Ada senyuman yang sempat Arsen suguhkan, hanya saja tertutup oleh helmnya. Itu sengaja. Kemudian Arsen meninggalkan Azzalea yang melambaikan tangan. “Hati-hati, Arsen!”

—haechiluffy




