Pengumuman

“Azza, gue deg-degan,” ujar Gala komat-komit.
Azza melirik tajam Gala. “Duh apasih la, sakit anjir lo cubit-cubit! Noh cubit nina, agam, atau abim kek jangan gue.” Balas Azzalea kesal.
Sabtu ini adalah hari penentuan bagi murid SMA Neo Ciputra. Kini semua murid sedang berkumpul menatap deretan kertas putih yang tertempel di mading. Azzalea dan teman-temannya tak sempat mendapat hasil itu, tapi seluruh murid seketika menoleh pada Azzalea yang begitu santai sembari mengunyah permen karet yang ada di mulutnya.
Tidak ada sedikit pun rasa penasaran bagi Azzalea. Sebenarnya, ia sangat khawatir jika nilainya jatuh. Bahkan, saat seluruh murid menatapnya, ia menganggap jika orang-orang akan mengucilkan Azzalea sebab nilainya jelek. Ia akan di sebut murid terbodoh di SMA NC.
Di tengah lapangan, semua murid murid berkumpul sesuai tempat duduk yang tertata. Lima menit lagi kepala sekolah akan berdiri menghadap podium untuk membacakan pengumuman nilai tertinggi hingga mendapatkan beasiswa sekaligus menjadi murid axcellent.
Azzalea menghela nafas kasar. “Azzalea, kakak yakin kamu bisa...” bisik seseorang yang tak tahu keberadaannya. Azza tersenyum, ia yakin jika mami dan Rangga ada di sisinya —Abang Azzalea.
“Aduh, gimana kalo nilai gue jelek, pasti motor gue bakal di sita bapak gue!” Celoteh Agam.
“Ck, berisik gam. Sabar napa, ntar juga di umumin, gak usah rewel deh lo!” Jawab Azza kesal.
“Selamat pagi menjelang siang, Anak-anak. Terima kasih atas kehadirannya, hampir seluruh murid SMA Neo Ciputra dari kelas 1 hingga 3 turut berkumpul disini. Baiklah saya tau jika kalian tidak sabar untuk mendapatkan hasil ini. Maka tanpa berlama-lama lagi, bapak akan segera membacakan pengumuman bagi siswa yang mendapatkan nilai tertinggi dari ranking 4 hingga 1, kemudian murid yang mendapatkan beasiswa sekaligus menjadi siswa akselerasi di Tahun ini.” Ujar bapak kepala sekolah dengan selembar kertas putih di tangannya.
“Keseluruhan siswa untuk nilai tertinggi di mulai dari rangking 4, dilihat dari nilai ujian tertinggi jatuh kepada Ralita Larasati dari siswa kelas 10 IPA 3 dengan nilai 91,75. Beri tepuk tangan!” Ujar bapak kepala sekolah, tepuk tangan terdengar memenuhi lapangan. Azza dapat melihat siswa berambut coklat sebahu berjalan maju kedepan.
“Baik! Selanjutnya untuk ranking 3, dilihat dari nilai ujian tertinggi di susul oleh Arsenio Mahesa dari siswa kelas 11 IPA 2 dengan nilai 95,56. Beri tepuk tangan!”
Dimas sontak berteriak serta menepuk tengan tepat sebelah telinga Arsen yang berdiri sebelahan. “WEHHHHH ADEK GUEEE!!!” Suara gemuruh terdengar dari barisan Vernon, menyambut Arsen yang berjalan maju kedepan.
“ARSEN DIEM-DIEM LIMITED COK”
“GILAKK ARSEN!”
“ARSEN SI ANAK VERNON ADEKNYA KAK DIMAS?”
“AAAA BEBEB ARSEN, SELAMAT!!!”
Pekikan teman-teman yang berteriak di belakang Azza membuat gadis itu menoleh dengan tatapan tajam tanpa suara. Tak lama mereka merunduk saat menyadari Azzalea menatap mereka, Dimas dan anak vernon lainnya hanya terkekeh di deretan siswa kelas 10 lainnya dengan reaksi Azzalea pada adik kelas.
“Makanya jangan teriak-teriak!” Imbuh Danu.
“Oke! Selanjutnya untuk ranking 2, dilihat dari nilai ujian tertinggi jatuh kepada Fathur Ginasyahputra dari siswa kelas 11 IPA 5 dengan nilai 96,60. Beri tepuk tangan!”
“Gue yakin, gue nggak bakal dapat. Sisa 1 njir, yaudah lah” ujar Gala.
“Kalau gue sih, yang penting naik kelas,” balas Azza santai.
“Sekarang, untuk ranking 1, nilai tertinggi yang di ambil dari hasil keseluruhan semester ini di raih oleh Azzalea Zalist dari siswa kelas 11 IPS 2 dengan nilai 98. Selamat untuk kalian!”
Suara gemuruh serta tepukan tangan terdengar dari barisan kelas Azzalea.
“AZZA, LO DI SEBUT!” Ucap Gala memeluk Azzalea.
Gadis itu sempat kaget dan tak menyangka jika ia adalah peraih tertinggi di sekolahnya. Bisikan itu, azza masih teringat akan bisikan yang menyuarai telinganya. Ia menangis bahagia dalam pelukan Gala. “Gala, g-gue...?” Gala mengangguk, “iya za, lo udah banggain mami sama bang Rangga!”
“Selamat! Gue bangga sama lo, Za. Bunda sama ayah pasti bangga!” Bisik Gala turut mengecup puncak kepala Azzalea di hadapan banyak orang. “Kedepan gih!”
Azzalea berjalan menuju pusat suara, dan mendapati piala. “Selamat ya nak!” Ucap kepala sekolah. Ia masih tak menyangka, benar-benar di luar ekspetasinya.
Azza mengangguk senyum. “Terima kasih pak!”
“Selamat,” ucap laki-laki yang berdiri sebelahnya— Arsen.
Azza menoleh. Tak menyangka lagi seorang Arsen, laki-laki yang ia sebut kulkas 8 door mengajaknya bicara terlebih dahulu. Ucapan selamat yang kedua ia dapatkan dari laki-laki yang selama ini ia sebut membawa takbir.
Azza tersenyum bahagia dan mengulurkan tangannya. “Makasih cen! Lo juga.”
Laki-laki itu mendengus, masih menahan senyumnya setelah mendengar sebutan 'cen'. “Nama gue Arsen!”
Azza mengangguk paham. “Iya Arsen, selamat ya!”
Arsen tersenyum.
— haechiluffy