Melepas Rindu.

Mentari pagi kembali menyinari bumi. Hari ini hari minggu, seorang gadis keluar dari pintu rumah mewah dengan pakaian cukup sederhana dan rambut ikalnya. Gala, sudah menunggu di atas sepeda motornya. Laki-laki itu tidak pernah merasa resah ketika bersama Azzalea. baginya, Azza bukan wanita yang heboh, semua yang di miliki Azzalea selalu di kagumi Gala. Sayang sekali, Azza adalah sepupunya. Jika bukan, gadis itu menjadi pacarnya.
“Lama amat sih?” Protes Gala.
“Gue nyariin lo daritadi,” balas Azza tidak terima.
“Yaudah cepetan naik!”
“Helmnya?”
“Tuh,” Gala menunjuk benda berwarna hitam tergantung di ranting pohon.
“GALA, HELM GUE LO APAIN ?!” Teriak Azza merengek.
“Hahahahaha, salah sendiri lama...”
Azza hanya menghembus napas kasar, masih pagi sudah di beri kesal oleh Gala.
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh lima menit, mereka sampai di depan gapura TPU. Terlihat dari kejauhan tempat istirahat mami dan abang-nya sangat rindang, Azza sudah menyiapkan dua bungkus plastik berisikan taburan bunga.
“Permisi, pak...” ucap Gala dan Azza pada penjaga TPU.
“Ini non Azza sama mas Gala kan?” Tanya laki-laki tua membawa capil dan cangkul di kedua tangannya.
Azza mengangguk sopan. “Iya pak, saya anaknya Almarhum bu sofia dan adiknya bang Rangga. Ini Gala, sepupu saya dan bang Rangga.”
“Masya Allah... cantik dan ganteng. Iya, saya tadi dapat pesan dari ibu Rita katanya kalian akan kesini.”
“Bu Rita itu bunda kandung saya, pak. Sekarang Azza tinggal sama kami, dan bunda ayah udah menjadi orang tua bagi Azza.”
Laki-laki tua itu mengangguk paham.
“Nama bapak, Lukman. Saya yang menjaga pemakaman ini, saya sudah kenal baik dengan keluarga kalian.”
“Salam kenal pak lukman,” ujar Gala.
“Mari saya antar?”
“Terima kasih pak.”
——————————————————
“Assalamu'alaikum mami dan bang Rangga. Azza datang nih, anak bontotnya kangen sama kalian. Azza kesini di temenin Gala lagi, azza juga bingung mau ajak siapa lagi.” Ujar Azza mengusap papan nisan mami-nya.
Gala berada di sebelah Azza yang sedang melepas rindu. Azza tidak kuat, air matanya kini menetes di atas liang lahat.
“Mami, Azza kangen. Azza kangen sama kalian, pengen ketemu. Hiks. Oh iya, Azza habis banggain bunda sama ayah loh. Azza dapat ranking 1 nilai tertinggi dan dapat beasiswa. Kalian bangga nggak sama aku?”
Gala hanya terdiam. Mendengar isakan Azza, Gala mencoba menenangkan sepupu-nya melalu mengusap halus punggung dan kepala Azza.
“Maafin Azza ya? Azza nakal banget jadi anak gadis mami, Azza suka mukulin orang, tapi Azza beneran ngelakuin itu demi kebaikan kok, Mi. Kalian lagi apa disana? Kangen aku nggak? Tungguin Azza ya, nanti kita ketemu.” Ujar Azza membuat Gala terkesan aneh.
“Za, ngomong apasih lo? Gak lucu.”
“Gal, semua manusia itu akan kembali pada tempat pemula. Kita di dunia cuma sementara, kita gak ada yang tau kapan Tuhan ambil ajal kita, kita cuma bisa nunggu. Makanya kenapa gue bilang gitu, sekalian gue lepas rindu.”
“Tapi jangan ngomong gitu juga, Za. Gue takut kalo lo kenapa-kenapa?”
“Gue nggak akan tinggalin lo, Gala.”
“Janji?”
”... Kun fayakun, Gala.”
Setelah tiga puluh menit mereka berdoa serta melepas rindu. Gala melirik kearah pergelangan tangannya, terlihat pukul 11.30 WIB.
“Za, udah setengah dua belas. Kita jadi join ke Vernon nggak?” Tanya Gala.
“Boleh, pumpung masih ada waktu. Kita ke masjid dulu ya, sholat dhuhur terus nyusul mereka?”
Gala mengangguk.
“Mami, abang... kita izin pamit dulu ya? Lain waktu, kita kesini lagi. Bahagia ya kalian disana,” qucap Azza mengusap papan nisan yang bertuliskan Sofia dan Rangga untuk berpamitan.
“Assalamu'alaikum...” ujar mereka berdua, kemudian melangkah pergi meninggalkan tempat.
“Pak lukman, kami pamit dulu. Minta tolong jaga baik-baik keluarga saya ya?” Ujar Azzalea.
“Siap, Non.”
‐haechiluffy