Netflix & Indomie

“Azza!”
Azzalea menoleh kearah ruang makan, Gala sudah menantinya sembari membawa tiga bungkus mie rebus. Kaos hitam dengan celana kolor abu-abunya.
“Widih, ambil dimana lo?”
“Di lemari lah, kan udah stok” jawab Gala membawa kembali ketiga bungkus mie itu ke dapur. Azzalea mengikuti perintah Gala, karena ia sama sekali tidak pandai memasak sesuatu. Hanya memasak air.
“Za, ambil panci di situ!”
Azza menoleh mencari panci yang di tuju Gala. Kesal, Azza tidak ingin mengambilnya karena letak panci itu tergantung di sebelah Gala.
“Males, lo ambil sendiri!”
“Ck, ambilin za. Gue lagi misahin bumbunya,” ujar Gala.
“Pancinya di sebelah lo bego!”
Azzalea membalikan badan Gala menghadap letak panci itu tergantung, “eh— kok nggak bilang sih panci...” ucap Gala meringis.
“Za, besok ke rumah bang nathan.”
“Dah tau,”
“Udah di kabarin?” Tanya Gala.
“Hmmm,”
Gala menata ruang tamu. Menggelar karpet bulu di atas lantai, semua makanan, minuman, serta cemilan lainnya sudah tertata rapi di meja.
“Lo besok sama gue?” Tanya Gala memastikan.
Azza mengangguk, ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. “Ya iyalah, terus entar gue sama siapa? Ya kali gue nebeng-nebeng. Mending gue ngerepotin lo, daripada orang lain.”
Balas Gala mengangguk paham.
Sembari menonton film, Azza yang menatap layar tv malas. Gala sedang mencari genre film yang akan di tonton.
“Gala!” Panggil Azzalea.
“Hmm,” dengan memencet remot tv nya.
“Besok kan pembagian nilai. Menurut lo, nilai gue memuaskan nggak ya?” Ujar Azza gelisah.
Gala membalikkan badannya duduk bersebelah Azza. “Kok lo mikir gitu?”
“Ngggak gitu! Ya lo tau sendirikan. kita tuh bandel, bahkan lebih bandel gue, yang selalu di panggil guru, bunda yang sering marah cuma gara-gara kelakuan kita, gue cuma takut ntar malah bikin kecewa bunda sama ayah.”
Gala menggeleng. “Percaya sama gue, nilai kita baik-baik aja. Bunda nggak akan kecewa, kita pasti bisa banggain mereka. Lo inget kan? Apapun yang terjadi, resiko akan tetap kita jalani.”
“Mami gue bangga nggak ya sama gue?”
Gala mendengus. Azza sedang dalam mode merindukan kedua orang tuanya, Gala yang melihat sorot wajah Azza turut merasakan yang sama. Laki-laki itu hanya bisa mengusap halus kepala sepupunya, jika sudah begini, Gala tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menenangkan Azza se-bisa mungkin.
“Za!”
Azza menoleh. “Jangan sedih ya, gue tau lo kangen sama mami. Tapi lo harus inget, mami sudah bahagia di Surga. Mami pasti bangga kok punya anak kayak lo. Manusia itu nggak ada yang sempurna, Za. Kita belajar buat ikhlas yuk? Kita belajar buat berpikir positif aja. Ada gue, ayah, bunda, dan vernon.”
Azza tersenyum. “Tumben banget lo bijak? Biasanya gue mulu yang ceramahin lo.”
“Gue juga manusia kalo, Za. Punya hati!”
“Lah iya ya, lupa.” ujar Azza tertawa.
Balas Gala mendengus. Mereka melanjutkan maraton film sampai tertidur pulas di sofa, tidak ada yang tega untuk membangunkan mereka berdua. Bunda hanya menggelengkan kepala heran, senyumnya melebar saat melihat keunikan mereka yang tidur berpencar. Azza di atas sofa, sedangkan Gala di karpet bawah.
-haechiluffy